Skip to main content

Hybrid Learning: Pengertian, Manfaat, Kelemahan dan Jenisnya

hybrid learning adalah

Salah satu sektor yang sangat terdampak oleh terjangan pandemi Covid-19 adalah sektor pendidikan. Sektor pendidikan pada awal masa pandemi begitu kesulitan untuk menyesuaikan dengan keadaan karena tidak diizinkannya pertemuan tatap muka. Setelah pandemi mulai reda, kita mulai mencoba melakukan aktivitas seperti biasa namun tetap dibatasi dan dibagi dua menjadi online dan offline yang biasa kita kenal adalah hybrid learning.

Seiring dengan berjalannya waktu, dunia pendidikan mau tidak mau harus beradaptasi dengan keadaan. Salah satunya adalah dengan penyesuaian metode pembelajaran. Selama pandemi masih menerjang dunia, proses pembelajaran dilakukan sepenuhnya secara daring atau menggunakan internet dengan video konferensi. 

Namun, pembelajaran daring secara penuh itu justru menimbulkan permasalahan-permasalahan baru. Meskipun memang prosesnya dapat berjalan, tetapi ada kendala-kendala yang dirasakan baik oleh pengajar maupun oleh peserta didik. Masalah utama yang kerap ditemui adalah masalah internet dan perangkat elektronik yang tidak memadai. 

Dengan munculnya permasalahan tersebut, proses pembelajaran pun akhirnya kembali menyesuaikan diri dan kemudian munculah model pembelajaran yang dinamakan hybrid learning. 

Apa itu Hybrid learning? 

Pengertian Hybrid Learning

Hybrid learning artinya adalah model pembelajaran gabungan secara daring (online) dan luring (offline/tatap muka), tetapi pada pada hybrid learning pelaksanaannya dilakukan secara bersamaan. Jadi maksudnya adalah pengajar akan melakukan pembelajaran terhadap siswa yang belajar secara daring dan juga siswa yang belajar di kelas secara bersamaan dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Proporsi antar siswa yang belajar secara daring dan luring umumnya terbagi masing-masing 50 persen dari total siswa di kelas. 

Jadi misalnya di dalam kelas terdapat 30 siswa, maka 15 akan belajar secara daring dan 15 secara luring dalam waktu yang bersamaan.

Arti hybrid learning ini berbeda dengan blended learning, meskipun sama-sama model pembelajaran gabungan antara daring dan luring. Yang membedakan adalah pelaksanaannya, di blended learning, yang dibagi adalah waktunya, bukan siswanya. Jadi terkadang pembelajaran secara daring, terkadang secara tatap muka. 

Hybrid learning ini diberlakukan dalam rangka untuk memudahkan para siswa yang memiliki keterbatasan sarana prasarana pembelajaran. Jadi para siswa yang terkendala dengan alat untuk belajar daring, tetap mendapatkan pembelajaran dengan datang ke sekolah.

Terdapat lima kunci yang harus diterapkan dalam proses pembelajaran secara hybrid. Kelima kunci itu berdasarkan pada teori pembelajaran yang dipaparkan oleh Keller, Gagne, Bloom, Merrill, Clark, dan Grey. Berikut adalah lima kuncinya: 

  • Live Event

Maksudnya adalah pembelajaran dapat dilakukan secara bersama, meskipun tempatnya berbeda. 

  • Self-Paced Learning

Maksudnya adalah siswa dapat belajar secara mandiri kapan saja, dimana saja secara daring. 

  • Collaboration

Collaboration adalah kolaborasi harus terjalin antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa selama proses pembelajaran. 

  • Assessment

Assessment maksudnya adalah guru harus mampu membuat formula yang dapat mengkombinasikan pembelajaran daring dan luring agar berjalan secara efektif. 

  • Performance Support Materials

Maksudnya adalah bahan pembelajaran harus sudah disiapkan baik secara daring maupun luring. 

Close up woman in  class

Manfaat Hybrid Learning

Pembelajaran hybrid learning ini diberlakukan tentunya bukan tanpa manfaat, ada beberapa manfaat yang dapat dihasilkan dari pemberlakuan hybrid learning. Di antaranya adalah: 

  • Efektif dan Efisien

Pembelajaran secara hybrid dinilai lebih efektif dan efisien. Efektif dalam hal ini maksudnya adalah dapat mengakomodir siswa-siswa yang memiliki keterbatasan. Selain itu, kondisi siswa dalam belajar juga berbeda-beda, ada yang memang lebih menerima secara tatap muka langsung, tetapi ada pula yang bisa menerima justru secara daring. 

Sedangkan efisien maksudnya adalah pembelajaran dapat dilaksanakan dalam satu waktu saja. 

  • Variasi Pembelajaran

Para siswa bisa merasakan variasi model pembelajaran, tak hanya terus-terusan tatap muka, tetapi juga terkadang bisa secara daring sehingga tidak bosan dalam belajar.

Hal ini bergantung pada aturan dari sekolah, apakah akan merotasi siswa atau tidak. 

  • Meminimalisir Kendala

Salah satu kelemahan pembelajaran secara daring yang kerap ditemui adalah masalah peralatan, misalnya seperti tidak memiliki gawai atau laptop, sinyal internet yang bermasalah, dan masalah-masalah teknis lainnya. 

Dengan adanya dua pilihan, siswa yang terkendala masalah-masalah tersebut tentunya bisa tetap menerima pembelajaran secara tatap muka. 

  • Meminimalisir Kontak Fisik

Manfaat ini sangat dirasakan selama pandemi Covid-19 yang mengharuskan pembatasan jumlah siswa di dalam ruangan kelas. dengan adanya pilihan antara daring dan luring, maka kelas tidak akan diisi penuh oleh siswa sehingga memungkinkan untuk saling menjaga jarak satu sama lain.

  • Mengembangkan Keterampilan Digital

Metode hybrid learning ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga bagi tenaga pengajar. Dengan adanya pemanfaatan teknologi, maka baik guru maupun siswa dituntut untuk mampu beradaptasi dengan teknologi yang ada. Dengan demikian, mau tidak mau baik siswa atau guru akan memiliki keterampilan digital. 

Kekurangan Hybrid Learning

Model pembelajaran memang tidak ada yang sempurna, termasuk hybrid learning. Meskipun memang banyak kelebihannya, tetapi hybrid learning juga masih memiliki kelemahan-kelemahan.

Salah satu kelemahan yang mungkin masih dihadapi terkait dengan metode hybrid learning adalah masalah sinkronisasi antara pengajaran. Pembelajaran hybrid tentunya masih butuh formula yang tepat agar siswa yang belajar secara daring dapat menerima pembelajaran yang sama dengan daring. Sebab terkadang peralatan yang kurang mendukung juga akan menghambat pembelajaran terutama bagi siswa yang belajar secara daring. 

Misalnya adalah suara guru yang bisa saja tidak terdengar secara daring karena terlalu fokus dengan pembelajaran tatap muka. 

Selain itu, kelemahan dari hybrid learning adalah partisipasi dari siswa yang bisa saja terabaikan. Masalah tersebut kembali lagi ke persoalan sinkronisasi. Sebab, ada kemungkinan pengajar tidak tahu ketika siswa yang belajar melalui video konferensi ingin bertanya atau ingin memberikan tanggapannya.

Baca juga: Blended Learning adalah: Pengertian, Kelebihan dan Kelemahan

 

Woman with headset having video call on laptop

Jenis Hybrid Learning

Setidaknya saat ini terdapat lima langkah pembelajaran model hybrid learning yang menyesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Lima model itu antara lain: 

  • Model hybrid learning 1

Pembelajaran hybrid model 1 adalah model yang menekankan pada pembelajaran secara daring, tetapi tetap terpisah. Jadi maksudnya adalah siswa tetap ada yang berada di ruangan kelas dan di rumah, tetapi pengajar melakukan pembelajaran secara daring. Jadi baik di rumah, maupun di ruangan kelas, siswa tetap akan menggunakan perangkat teknologi, seperti komputer atau laptop. 

  • Model hybrid learning 2

Pembelajaran hybrid model 2 adalah model yang cenderung fleksibel karena dapat menggunakan internet secara penuh atau tidak sepenuhnya  dengan internet. Jadi siswa akan diberikan untuk belajar secara daring atau tatap muka.

  • Model hybrid learning 3

Pembelajaran hybrid model ketiga adalah pembelajaran yang dilakukan mayoritas secara daring. Jadi pembelajaran cenderung akan lebih banyak secara daring, tetapi akan tetap ada tatap muka. 

Tatap muka umumnya bertujuan untuk melakukan praktikum atau diskusi. Jadi model ketiga ini mirip dengan model pertama yang memprioritaskan penggunaan internet. 

  • Metode hybrid learning 4

Pembelajaran hybrid model keempat adalah model yang memprioritaskan tatap muka ketimbang daring. Jadi pembelajaran daring digunakan untuk mendukung pembelajaran saja. 

  • Metode hybrid learning 5

Pembelajaran hybrid model kelima adalah model yang tidak mewajibkan siswa untuk selalu belajar secara daring. Jadi, model kelima ini akan memudahkan siswa yang memiliki keterbatasan peralatan. 

Siswa yang memiliki keterbatasan peralatan itu dapat datang langsung ke sekolah untuk mengakses internet dan mendapatkan pembelajaran secara tatap muka. 

Demikian penjelasan mengenai hybrid learning. Sampoerna University menjadi satu-satunya universitas swasta yang bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi di Amerika Serikat, yaitu University of Arizona. Dengan adanya kemitraan ini, lulusan Sampoerna University akan berkesempatan memperoleh dua gelar. Kolaborasi ini memungkinkan siswa untuk menyelesaikan Sarjana 1 Indonesia dan gelar sarjana dari University of Arizona tanpa harus meninggalkan Indonesia. 

University of Arizona, sebagai salah satu lembaga penelitian terkemuka di Amerika Serikat, terakreditasi oleh Komisi Pembelajaran Tinggi, serta Asosiasi Sekolah Tinggi dan Sekolah Bisnis Amerika (AACSB) dan Dewan Akreditasi Teknik dan Teknologi (ABET). Lulusan program gelar ganda yang tersedia di Fakultas Bisnis dan Teknik akan menerima diploma dan transkrip dari kedua institusi.

Referensi
Dunia Dosen – Hybrid Learning Adalah

X