Kesehatan mental kini menjadi perhatian utama, terutama bagi para pelajar yang menghadapi berbagai tantangan akademik. Menurut Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional (I-NAMHS), 1 dari 20 remaja di Indonesia mengalami tantangan kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi.
Selain itu, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), menyatakan bahwa 60% mahasiswa baru di UI menunjukkan tingkat depresi yang tinggi, yang menegaskan betapa seriusnya isu ini di kalangan anak muda.
Baca Juga: 5 Tips Menghadapi Stres Saat Proses Penerimaan Universitas
Tantangan Kesehatan Mental yang Dihadapi Mahasiswa
Berikut adalah beberapa masalah kesehatan mental yang umum dialami oleh mahasiswa dan dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari serta prestasi akademik mereka.
1. Gangguan Kecemasan
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gangguan kecemasan menyebabkan rasa takut atau kekhawatiran yang terus-menerus, sulit dikendalikan, dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Sekitar 26,7% remaja mengalami kondisi ini.
2. ADHD
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan mental yang umum terjadi dan menyebabkan kesulitan dalam berkonsentrasi, duduk diam, atau mengendalikan impuls. Sekitar 10,6% remaja mengalami kondisi ini, yang dapat berdampak pada proses belajar, perilaku, dan aktivitas keseharian mereka.
3. Gangguan Depresi Mayor
Gangguan depresi, atau depresi, adalah kondisi kesehatan mental yang umum di mana seseorang merasakan kesedihan mendalam atau kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya mereka nikmati dalam jangka waktu yang lama. Sekitar 5,3% remaja mengalami kondisi ini, yang memengaruhi kehidupan sehari-hari dan hubungan sosial mereka.
4. Gangguan Perilaku
Gangguan Perilaku (Conduct Disorder/CD) adalah kondisi kesehatan mental di mana anak-anak atau remaja menunjukkan pola berulang berupa perilaku agresif atau antisosial yang melanggar hak orang lain maupun norma sosial. Sekitar 2,4% remaja mengalami gangguan ini. Meskipun tergolong tidak terlalu umum, kondisi ini tetap penting untuk dikenali dan ditangani sejak dini.
5. PTSD
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) sebagai kondisi yang ditandai dengan gejala berkelanjutan seperti mengalami kembali peristiwa traumatis yang pernah dialami. Sekitar 1,8% remaja mengalami PTSD, yang menunjukkan bahwa meskipun persentasenya kecil, dampaknya bisa sangat besar dan mereka tetap membutuhkan dukungan.
Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap Tantangan Kesehatan Mental
Tantangan kesehatan mental di kalangan pelajar dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sayangnya, hanya 2,6% remaja di Indonesia yang mengakses layanan kesehatan mental. Berikut adalah beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kesehatan mental mahasiswa.
1. Tekanan Akademik
Ekspektasi yang tinggi dan beban kerja yang berat dapat menimbulkan stres dan kecemasan yang berujung pada masalah kesehatan mental, terutama di kalangan remaja.
2. Tekanan Sosial
Remaja sering kali merasa perlu untuk diterima, diakui, atau mengikuti standar pergaulan, terutama di media sosial. Hal ini dapat memicu stres, kecemasan, dan rendahnya rasa percaya diri, khususnya jika mereka menghadapi perundungan, pengucilan, atau perbandingan yang tidak realistis.
3. Tekanan Finansial
Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan keluarga atau pengeluaran pribadi dapat menimbulkan kecemasan pada remaja. Kondisi ini dapat mengganggu fokus belajar, membatasi aktivitas sosial, serta memunculkan perasaan malu atau tidak berdaya, terutama ketika mereka membandingkan diri dengan orang lain.
Cara Mengatasi Tantangan Kesehatan Mental
Berikut adalah beberapa cara untuk mengatasi tantangan kesehatan mental dan meraih hasil akademik terbaik.
1. Praktikkan Mindfulness
Luangkan beberapa menit setiap hari untuk bernapas dalam-dalam, tetap hadir di momen saat ini, dan menenangkan pikiran. Hal ini dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan keseimbangan emosional.
2. Belajar Mengelola Waktu dengan Efektif
Gunakan perencana atau buat daftar tugas agar tetap terorganisir, karena memecah pekerjaan menjadi langkah-langkah kecil dapat membuat semuanya terasa lebih mudah untuk dijalani.
3. Ceritakan kepada Seseorang
Berbagi perasaan dengan teman, anggota keluarga, atau konselor dapat membuatmu merasa lebih didukung dan tidak sendirian.
4. Pola Makan Sehat dan Tidur yang Cukup
Mengonsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup membantu otak dan tubuh dalam menghadapi stres dengan lebih baik.
5. Berolahraga Secara Rutin
Aktivitas fisik melepaskan endorfin, yaitu zat alami yang dapat meningkatkan suasana hati. Bahkan jalan kaki singkat pun sudah cukup untuk menjernihkan pikiran.
6. Jangan Lupa Meluangkan Waktu untuk Diri Sendiri
Sisihkan waktu untuk melakukan aktivitas yang kamu nikmati, seperti membaca, menggambar, atau mendengarkan musik. Hal ini membantu memulihkan energi dan semangat.
7. Jangan Ragu untuk Meminta Bantuan
Jika semuanya terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Ingat, tindakan ini adalah tanda keberanian, bukan kelemahan.
Baca Juga: 10 Tips Sukses Menyeimbangkan Pekerjaan dan Kuliah bagi Mahasiswa
Kini Kamu Lebih Memahami Tantangan Kesehatan Mental di Perguruan Tinggi
Tantangan kesehatan mental semakin umum dialami oleh mahasiswa akibat tekanan akademik, tuntutan sosial, dan pergumulan pribadi. Lingkungan yang suportif menjadi kunci dalam membantu remaja menghadapi permasalahan ini. Sampoerna University menyediakan layanan dukungan bagi mahasiswa yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan mental mereka.
Melalui program empat tahun yang unik, mahasiswa dapat meraih gelar S1 Indonesia sekaligus gelar Bachelor's dari University of Arizona, sambil mendapatkan bimbingan yang dibutuhkan untuk berkembang secara akademik maupun emosional. Mulailah perjalananmu bersama Sampoerna University hari ini dan rasakan lingkungan belajar yang penuh dukungan!