Skip to main content

Disposable Income: Arti, Cara Menghitung, dan Tips Mengelola

By September 7, 2022September 16th, 2022Artikel, Berita & Kegiatan FOB
disposable income

Dalam istilah keuangan saat ini sering muncul istilah disposable income ketika dalam pembahasan soal pendapatan. Menghitung pendapat ini penting artinya untuk kesehatan finansial seseorang, dan untuk kondisi keuangan yang lebih baik.

Sebenarnya, apa pengertiannya dan bagaimana cara menghitung disposable income? Simak selengkapnya beserta rumus disposable income berikut ini!

Pengertian Disposable Income

Jika ditranslasi ke dalam Bahasa Indonesia, arti disposable income adalah pendapatan sekali pakai. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendapatan artinya hasil kerja (usaha dan sebagainya); pencarian. Sedangkan sekali pakai berarti tentang sesuatu yang hanya dapat digunakan sekali atau dengan jumlah terbatas, kemudian dibuang.

Artinya, pendapatan pribadi yang bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari usai dikurangi pajak langsung. Pajak langsung tersebut dalam hal ini termasuk PKB (Pajak Kendaraan Bermotor), PPh (Pajak Penghasilan), PBB (Pajak Bumi Bangunan), jaminan hari tua (JHT), jaminan pensiun (JP), dan BPJS Kesehatan.

Jadi, penjelasan disposable income yang paling tepat adalah dana yang didapat dari hasil pengurangan pendapatan pribadi dengan total pengeluaran pajak. Besar dan kecilnya pendapatan merupakan faktor penting penentu daya beli seseorang atau keluarga, kemampuan menabung, bahkan kesejahteraan hidup.

Disposable income adalah dana yang kemudian akan dimanfaatkan untuk membeli barang dan jasa, selain juga menjadi tabungan dan investasi.

Skala Disposable Income

Pendapatan ini memiliki skala yang luas, dari yang kecil sampai besar. Dalam skala kecil, ada di level perorangan atau rumah tangga. Pendapatan tersebut jadi penilaian akan kemampuan daya beli seseorang atau rumah tangga. Semakin besar daya beli, maka akan semakin sejahtera.

Di level atasnya, ada pendapatan perusahaan, yang jika besar maka ada kesempatan yang lebih lebar untuk meningkatkan produksi, memperluas area bisnis, melakukan ekspansi, dan aktivitas bisnis lainnya.

Di level terbesar, pendapatan ini juga berpengaruh terhadap pendapatan nasional sebuah negara. Disposable income sebuah negara adalah salah satu indikator ekonomi utama, digunakan untuk mengukur keadaan ekonomi negara tersebut, proses belanja negara diawasi secara ketat.

Perbedaan Income, Disposable Income, dan Discretionary

disposable income

Ada perbedaan mendasar soal tiga hal ini. Income alias pendapatan adalah total seluruh dana yang diterima. Sedangkan disposable income merupakan dana hasil income yang sudah dikurangi pajak secara langsung.

Terakhir, ada yang namanya discretionary income atau pendapatan yang diinvestasikan atau ditabung setelah membayar pajak dan biaya kebutuhan sehari-hari, alias uang sisa dari pengeluaran rutin. Lalu, sebenarnya apa tujuan dari menghitung pendapatan ini?

Tujuan Menghitung Disposable Income

Berikut ini adalah beberapa tujuan dari menghitung pendapatan tersebut:

  1. Menjadi Standar Pembuatan Kebijakan Bisnis

Setelah menghitung biaya pajak, didapatkan pendapatan yang bisa menjadi pertimbangan yang lebih baik untuk alokasi dana bagi perkembangan bisnis. Hal-hal seperti besaran belanja produksi, penambahan karyawan, atau ekspansi bisnis bisa ditentukan dari hal ini.

Jika pendapatan ini berkurang, juga bisa menjadi dasar perusahaan membuat kebijakan baru.

  1. Memperhitungkan Mekanisme Pasar

Perusahaan bisa menaksir permintaan barang dari daya beli masyarakat yang berpengaruh kepada tren dan mekanisme pasar. Daya beli ini dipengaruhi oleh pendapatan tersebut di masyarakat. Artinya, ini bisa jadi pertimbangan penting perusahaan.

  1. Mengukur Kesehatan Finansial

Dari level perorangan, rumah tangga, perusahaan, hingga negara perlu dilihat kesehatan finansialnya. Cara paling mudah adalah menghitung pendapatan tersebut, yang jika nilainya lebih besar daripada kebutuhan, maka bisa dibilang finansialnya sehat.

Faktor Pengaruh Disposable Income

Setidaknya ada tiga hal yang mempengaruhi pendapatan tersebut:

  1. Pajak Langsung

Pajak-pajak seperti PKB (Pajak Kendaraan Bermotor), PPh (Pajak Penghasilan), PBB (Pajak Bumi Bangunan), jaminan hari tua (JHT), jaminan pensiun (JP), dan BPJS Kesehatan adalah hal yang membuat income menurun.

Artinya, jika pajak turun, maka pendapatan ini bisa meningkat, yang artinya meningkatkan daya beli masyarakat.

  1. Total Income

Jumlah total penghasilan secara kotor juga jadi pengaruh besar pendapatan tersebut. Semakin tinggi pemasukan, semakin besar pula disposable income yang dimiliki. Namun, jika pajak juga meningkat seiring penghasilan seperti pajak penghasilan, maka pendapatan tersebut bisa-bisa tetap stagnan.

  1. Kondisi Ekonomi dan Politik

Hal-hal seperti tarif pajak, resesi, dan hal sebagianya sangat dipengaruhi oleh kondisi politik dan ekonomi suatu negara, hal yang tak bisa diatur oleh level perusahaan maupun rumah tangga dan perorangan.

Rumus Disposable Income

Cara menghitung disposable income secara sederhana adalah jumlah total pendapatan dikurangi pajak langsung dan pengurangan lainnya. Rumus tersebut bisa dituliskan:

Disposable income = pendapatan – (pajak langsung + pengurangan lain)

dengan disposable income merupakan penghasilan setelah dikurangi pajak dan tanggungan lain, pendapatan adalah pemasukan kotor, pajak langsung termasuk PBB, PPh, dan PKB, sedangkan pengurangan lain termasuk iuran wajib seperti BPJS, jaminan pensiun, dan jaminan hari tua.

Misal, ada seseorang dengan gaji kotor RP120 juta per tahun, penghasilan bulanan Rp10 juta. Bulan ini ia punya kewajiban pajak Rp4 juta dan iuran asuransi Rp500 ribu. Maka disposable incomenya adalah:

Disposable income  = pendapatan – (pajak langsung + pengurangan lain)

                                          = Rp10 juta – (Rp4 juta + Rp 500 ribu)

                                          = Rp5.500.000

Jadi, pendapatan orang tersebut pada bulan itu adalah Rp5,5 juta.

Baca juga: Tindakan Ekonomi adalah Hal Penting untuk Manusia, Apa Contohnya?

Tips Mengelola dengan Baik

disposable income

Tanda kondisi finansial yang baik adalah disposable income yang lebih tinggi daripada pengeluaran. Lalu bagaimana cara atau tips mengelolanya dengan baik?

  1. Prioritas Pengeluaran adalah Kunci

Pengeluaran ada pengeluaran rutin dan tak rutin, tulis semuanya lalu urutkan prioritasnya, misal dari penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak, sampai tidak penting-tidak mendesak.

Jangan lupakan dana darurat dan jika sudah menabung dan tetap ada sisa, artinya keuangan sudah sehat dan bisa digunakan untuk investasi dan hal lain.

  1. Evaluasi dan Budgeting

Evaluasi perlu dilakukan sesering mungkin, catat pengeluaran dan evaluasi mana pengeluaran yang bisa dipangkas atau dikurangi, dan mana yang harus ditambah.

Selain itu, lakukan budgeting alias perencanaan keuangan untuk waktu selanjutnya, dengan harapan pengeluaran lebih teratur dan kondisi finansial jadi lebih sehat.

Demikian penjelasan lengkap soal arti, tujuan, cara menghitung, dan tips soal disposable income. Untuk memperoleh disposable income ini, tentu perlu memiliki skill yang mumpuni agar bisa memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang sesuai keinginan. Untuk itu, Sampoerna University yang merupakan sebuah universitas terakreditasi penuh di Indonesia menawarkan pilihan terbaik bagi mereka yang mencari pendidikan internasional unggul. 

Sampoerna University merupakan satu-satunya universitas dengan standar kurikulum pendidikan, fakultas, fasilitas, dan operasional Amerika Serikat di Indonesia. Bekerja sama dengan University of Arizona, kami menawarkan Program Gelar Ganda yang memungkinkan Anda belajar selama 4 tahun di Jakarta dengan kurikulum Amerika Serikat dan lulus dengan 2 gelar: Gelar Sarjana AS terakreditasi dari University of Arizona dan Gelar Sarjana (S1) terakreditasi dari Sampoerna University.

Untuk informasi lebih lanjut terkait pendaftaran, kurikulum, kunjungan, dan informasi seputar Sampoerna University silakan mengisi data di bawah ini.

Article Form

Referensi

OCBCNISP

X