Skip to main content

Budaya Hustle Culture: Pengertian, Dampak dan Cara Mengatasinya

By Februari 26, 2022Agustus 15th, 2022Artikel, Artikel - FAS, Artikel - FET, Artikel - FOB, Artikel - FOE, Edukasi
hustle culture adalah budaya gila kerja para kamu milennials

Pernah bekerja terlalu keras, sering, tanpa istirahat dan sampai lupa waktu? itu termasuk ke dalam hustle culture. Hustle culture adalah suatu budaya kerja keras mendorong diri sendiri dan melewati batas kemampuan untuk mencapai tujuan kapitalis, seperti kekayaan, kemakmuran dan kesuksesan secepat mungkin. Fenomena inilah yang tengah terjadi di kalangan anak muda.

Tak jarang anak-anak generasi muda membagikan momen bekerja terlalu lama tak kenal waktu lewat unggahan di media sosial. Budaya ini seolah diglorifikasi dan dianggap sebagai sebuah pencapaian kerja yang positif. Lantas, bagaimana sebenarnya budaya kerja seperti ini dan dampak apakah yang diberikan, baik atau buruk.

Baca juga: Demokrasi Pancasila, Sistem, Prinsip dan Nilai-nilai

Pengertian Hustle Culture

workaholic adalah salah satu budaya hustle culture

Secara harfiah dengan mengacu kepada Oxford Learner’s Dictionary, hustle culture artinya sebagai mendorong seseorang agar dapat bergerak lebih cepat secara agresif. Secara sederhana hustle culture berarti sebuah budaya yang membuat orang-orang bergerak lebih cepat atau agresif, dalam hal ini soal budaya kerja.

Didefinisikan sebagai budaya yang mendorong karyawan atau pekerja atau buruh untuk bekerja lebih dari waktu normal. Bahkan mereka memikirkan pekerjaan ketika berada di waktu luang, seperti akhir pekan misalnya. Budaya ini menuntut mereka menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai target dan tepat hingga ritme yang lebih cepat dari biasanya.

Bagi orang yang sudah terjebak dalam budaya ini, mereka nyaris tidak pernah beristirahat dan jika memiliki waktu untuk beristirahat biasanya yang dipikirkan hanya pekerjaan. Budaya ini lahir sejak sekitar 1970, hingga era internet membuat budaya ini semakin menggila. Perusahaan dipermudah dengan adanya email dan sistem administrasi digital.

Dampak Hustle Culture

dampak hustler

  • Tingkatkan Risiko Penyakit

Penelitian yang dilakukan Current Cardiology Reports pada 2018 menemukan bahwa orang yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular. Bisa seperti infark miokard atau serangan jantung dan penyakit jantung koroner yang mematikan.

Jam kerja panjang menyebabkan tekanan darah dan detak jantung meningkat, karena aktivasi psikologis yang berlebihan dan stres. Selain itu lembur kerja juga berkontribusi pada resistensi insulin aritmia, hiperkoagulasi dan iskemia antara yang sudah memiliki beban aterosklerotik tinggi, diabetes hingga stroke.

  • Gangguan Kesejahteraan Mental

Risiko gangguan pada kesehatan mental, beberapa masalah yang dialami merupakan gejala depresi, kecemasan, hingga pikiran untuk bunuh diri. Hustle culture membuat pekerja mengalami burnout dan memberi efek negatif untuk kesehatan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan burnout adalah sebagai sindrom yang disebabkan karena stres berkepanjangan.

Burnout syndrome menyebabkan pekerja akhirnya merasa pesimis dengan hasil yang dikerjakan, hingga membuat para pekerja kurang memiliki motivasi dan energi untuk kembali bekerja dan tak mampu memenuhi kompetisi. Kesehatan mental dengan bekerja lebih memiliki hubungan yang sangat berkaitan.

  • Hilangnya Work Life Balance

Merupakan kondisi yang seimbang antara karier dan kehidupan pribadi, stres yang muncul karena pekerjaan bisa seketika hilang jika seseorang melakukan aktivitas yang disenangi. Seperti bertemu keluarga, pasangan hingga berkumpul bersama teman. Sosialisasi sangat berpengaruh pada kebahagiaan dan membuat seimbang dengan pekerjaan.

Indonesia tak luput dari booming budaya kerja yang gila ini, tak sedikit pekerja yang mengalami gangguan kesehatan mental akibat jam kerja berlebih. Termasuk di masa pandemi, kampanye produktif di rumah berisiko meningkatkan tren hustle culture karena bekerja dari rumah justru membuat hilangnya batasan jam kerja seperti di kantor.

Cara Menghindari atau Mengatasi

happy and enjoy working girl

  • Hindari Membandingkan Diri

Media sosial menjadi salah satu sumber tekanan yang menciptakan budaya kerja tanpa istirahat, semua orang ingin terlihat sukses dan mapan dalam pekerjaan. Kemudian bangga dengan memamerkan bekerja di tengah malam atau di akhir pekan. Usahakan untuk tidak membandingkan diri dengan mereka yang memamerkan hal tersebut di media sosial.

  • Cari Hobi di Luar Pekerjaan

Mencari waktu luang untuk menjalani hobi dan segala yang dicintai agar membuat hidup semakin seimbang. Biasanya dikenal dengan work life balance, setidaknya jangan biarkan waktu yang dijalani termakan oleh pekerjaan.

  • Tahu Batasan Diri

Cara selanjutnya agar diri terhindar dari hustle culture adalah mengetahui batasan diri dan membuat batasan yang jelas. Paham dan tahu kapan berucap tidak dan berani untuk mengatakannya, tahu kapan tubuh sudah meminta untuk istirahat dan tahu kapan tubuh bisa diajak bekerja keras. Jangan memaksakan karena ingin memenuhi standar tak manusiawi.

Menciptakan keseimbangan dalam bekerja dan situasi yang sehat di kantor merupakan hal yang harus dianut oleh pekerja ketimbang budaya hustle culture. Lingkungan kerja yang suportif dan menghargai setiap usaha bisa membuat kondisi mental si pekerja menjadi lebih baik dan tidak tertekan.

Demikian penjelasan mengenai hustle culture, dampak dan cara mengatasinya. Budaya tersebut sangat lekat dengan generasi milennials yang juga terkenal dengan generasi ‘sandwich generation‘. Untuk menghadapi tantangan yang berat di masa depan, para generasi muda perlu dibekali pendidikan yang berkompeten.

Sampoerna University adalah sebuah universitas terakreditasi penuh di Indonesia yang menawarkan pilihan terbaik bagi mereka yang mencari pendidikan internasional unggul. Sampoerna University merupakan satu-satunya universitas dengan standar kurikulum pendidikan, fakultas, fasilitas, dan operasional Amerika Serikat di Indonesia.

Bekerja sama dengan University of Arizona, kami menawarkan Program Gelar Ganda yang memungkinkan Anda belajar selama 4 tahun di Jakarta dengan kurikulum Amerika Serikat dan lulus dengan 2 gelar: Gelar Sarjana AS terakreditasi dari University of Arizona dan Gelar Sarjana (S1) terakreditasi dari Sampoerna University. Cari tahu info lebih lanjut tentang bagaimana cara mendaftar di Sampoerna University dengan klik link berikut ini.

Referensi
Glints.com – Hustle culture adalah

X